Jumat, 20 Juli 2012

UJIAN NASIONAL, DAN UJIAN ETIKA

UJIAN NASIONAL, UJIAN ETIKA DAN PETA
KINERJA GURU DI DAERAH
Oleh Elmiyana Garmawandi *)
PANDANGAN miris akan terlihat dalam beberapa hari ke depan, di mana peserta didik dalam hal ini siswa SMA/SMK dan MA akan melakukan kegiatan Ujian Nasional 2012 yang merupakan sebuah rangkaian kegiatan untuk mengukur indikator keberhasilan pencapaian mutu pendidikan secara nasional. Anak kita akan menjadi kelinci percobaan dari sebuah program kegiatan pendidikan nasional untuk mengevaluasi hasil kinerja penyelenggaraan pendidikan yang selalu mengalami permasalahan dalam pencapaian tujuan dan mutu pendidikan secara nasional. Ujian Nasional merupakan ujian berat bagi genearasi muda bangsa ini untuk mempertaruhkan masa depannya dalam mencari dan menjadi yang terbaik untuk mendapatkan predikat lulus dan berebut kursi kemasa depan pendidikan yang layak dan bergengsi demi masa depannya. Pertarungan idealisme, politik  dan kecerdasan membuat semua orang tua dan peserta didik menjadi orang yang pesakitan dalam menentukan nasib dan kehidupan masa depan yang dipertaruhkan dalam hitungan hari. Akankah perjuangan selama beberapa tahun ditentukan nasibnya dalam beberapa hari saja ?  Miris melihatnya ! Perjuangan mungkin lagi tidak akan berdarah-darah, karena perjuangan telah dimulai dalam beberapa bulan yang lalu dalam bentuk canalaisasi dan pemerasan berpikir untuk mencapai sesuatu dalam sesaat. Pendidikan tidak lagi berproses, tapi pendidikan sudah menjadi sebuah kegiatan drillisasi, suatu pemaksaan berpikir untuk mendapatkan sesuatu yang tidak sewajarnya dilakukan terhadap generasi muda bangsa ini.
Pertanyaan yang muncul dibenak pemimpin-pemimpin kita ! Benarkah tindakan itu ? Benarkan pendidikan merupakan serangkaian proses dari sebuah sistem ! jelas tidak. kanalisasi dan drillisasi pendidikan bukan sebuah proses, tapi melanggar dan mengabaikan sebuah proses dan etika pendidikan. Proteskah orang tua peserta didik kita ? Pastinya tidak ? Meraka pasrah dan memasrahkan anaknya untuk menjadi robot dan manusia pesakitan yang dipaksa untuk diisikan otaknya dengan sesuatu yang jelas-jelas melanggar suatu proses. Pemerkosaan pemikiran dan kebebasan berkarya untuk tujuan yang sesaat. Pemimpin pendidikan kita dan juga guru kita sudah harus berpikir tentang makna dan hakekat pendidikan yang membelajarkan, dan bukan pendidikan yang mengabaikan konsep berpikir cerdas dan memberdayakan guru dalam melakukan suatu proses pendidikan dan pembelajaran bermakna. Guru tidak lagi melakukan komitmen profesionalnya, tetapi guru kita sudah melakukan tindakan pembodohan karakter dengan melakukan sempalan ilmu yang dipaksanakan untuk mencapai sesuatu yang sesaat.
Lebih miris lagi ? Redaksi Pagi salah TV Swasta nasional (Minggu, 15/04/2012) memotret prilaku gila siswa-siswa dibeberapa daerah yang sudah lagi tidak bisa diterima dengan akan sehat. Mereka mendatangi kuburan-kuburan sesepuh, kuburan-kuburan keramat yang dianggap mereka akan dapat meluluskan mereka lolos dari lubang jarum yang namanya UN agar bisa lulus 100%. Sedihkan kita ? kalau peserta didik sudah mulai kehilangan etika dan percaya dirinya, dan kemudian melakukan tindakan kurang sehat ! Ternyata UN membawa dampak negatif terhadap perkembangan psikologi mereka yang “tidak siap” dan meragukan kemampuan dirinya. Bahkan yang lebih miris lagi, kita akan melihat prilaku anak kita pada saat UN dilaksanakan. Mereka akan beramai-ramai dan secara bergantikan pergi ke toilet serta hal-hal sejenisnya untuk mendapatkan jawaban UN yang belum tentu benar isinya, serta prilaku-prilaku unethical yang tidak semuanya bisa diterima akal. Sedihkan guru kita melihat prilaku anak didiknya melakukan ritual ke kuburan untuk lulus ujian ? Ini sudah pertanda bahwa guru Indonesia sudah kurang dipercaya untuk membawa mereka berhasil melaksanakan hajatan nasional demi masa depan mereka.
Guru ternyata dianggap kurang profesional, dan itu memang perlu dipertanyakan ! Keraguan peserta didik bukan tidak mendasar. Coba lihat hasil uji kompetensi guru UN ! sangat memprihatikan. Ternyata tidak wajar kalau siswanya berhasil dalam UN, kalau gurunya sendiri tidak berhasil dan gagal dalam mencerminkan dirinya sebagai seorang profesional yang siap mengantarkan siswanya sukses UN 2012. Buktikan dan uji dengan teori korelasi ? Signifikankah !
Mari sekarang kita berpikir, sudah benarkan UN sebagai instrumen penentu keberhasilan peserta didik dalam proses pembeajaran. Sebaiknya kita sudah harus berpikir bahwa itu semua keliru. UN sebaiknya jangan dilaksanakan dan digunakan sebagai komponen kelulusan, tapi sebaiknya digunakan sebagai instrumen pemetaan saja, sedangkan kelulusan serahkan saja kepada guru dan sekolah sebagai lembaga yang menyelenggarakan otonomi pendidikan secara berdaya. UN sebaiknya tidak dilaksanakan sebagai penentu, tapi UN dilakukan sebagai kegiatan terstruktur yang hanya berfungsi sebagai pemetaaan dan indikator nasional tercapainya tujuan pendidikan. Kemudian juga sebagiknya UN dilaksanakan searah dengan garis-garis otonomi pendidikan yang kesemuanya dlakukan sebagai ukuran nasional yang dilakukan untuk mengukur kompetensi pendidikan di daerah, yang selanjutnya kemudian dijadikan sebagai rujukan kearah pencapaian indikator mutu pendidikan nasional
Akhirnya ? Selamat berjuang anak-anak Indonesia ? berhasil dan gagal adalah suatu keputusan yang harus diterima sebagai sebuah komitmen diri mencapai keberhasilan. Dan selanjutnya kepada kita guru Indonesia, berikanlah sesuatu yang berguna bagi anak bangsa ini, janganlah kita (guru) dijadikan sebagai kambing hitam kegagalan dari sistem pendidikan nasional. Tapi mari kita berjuang memperbaiki sistem itu, agar kita menjadi manusia yang lebih berdaya dan lebih rasional dalam memandang suatu masalah.
--------------------
*) Elmiyana Garmawandi, adalah Guru SMA Negeri 1 Tanjungpandan - Kabupaten Belitung,
    Provinsi Kep. Bangka Belitung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar