Jumat, 31 Agustus 2012


BELITUNG OH ....(BELITUNG)

Oleh : Elmiyana Garmawandi

  

Kamis, 23 Maret 1999 tanggal yang sampai sekarang tidak pernah terhapus di memori saya karena pada tanggal  tersebut saya memutuskan untuk berangkat ke sebuah pulau di timur Sumatera yang waktu itu masih merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan. Keberangkatan saya bersama suami pada  waktu itu sebenarnya kurang direstui oleh orang tua saya. karena mereka berpikir kepindahan saya ke pulau ini akan menyulitkan mereka untuk berkomunikasi dan bertemu dengan saya. Sebenarnya suami saya asli dari pulau ini, tetapi orang tua saya juga tidak salah kalau mereka kurang merestui keberangkatan saya dan suami karena di tahun 1997 sebelum menikah orang tua saya mengajukan syarat “setelah menikah saya tetap tinggal di Muara Enim dan sekitarnya dan tidak boleh pindah ke pulau asal suami saya”, dan  suami saya pun menyetujuinya.

Setelah menikah 16 Nopember 1997, saya dan suami tetap tinggal di desa kelahiran saya yaitu sebuah desa di Kabupaten Muara Enim, desa ini pun sangat unik secara ekonomi kesejahteraan masyarakatnya tidak bermasalah, di mana anak-anak usia sekolah dari SMA sampai perguruan tinggi mereka mampu melanjutkan sekolah ke Ibukota Provinsi Sumatera Selatan yaitu Palembang,  tapi setelah menyelesaikan pendidikan tinggi mereka sebagian besar memilih pulang ke desa. Mereka pulang ke desa bukan bekerja sebagai karyawan atau pegawai tapi mereka bekerja sebagai petani (penyadap) karet yang sebenarnya tidak perlu dilakukan oleh seorang sarjana, Tapi ya itulah kenyataannya karena nyadap karet penghasilannya lebih menjanjikan dibandingkan penghasilan/gaji sebagai PNS atau karyawan swasta lainnya. Sehingga pegawai negeri didesaku banyak terisi oleh orang-orang dari luar daerah.

Saya dan suami bercita-cita menjadi PNS.hanya dengan bermodalkan ijazah Sarjana (S1). Suami ku menjadi seorang guru kontrak di salah satu sekolah dan menjadi guru honorer di beberapa sekolah, sementara sayapun juga mengajar dibeberapa sekolah sebagai guru honorer. Setiap tahun ada penerimaan PNS, tapi entahlah rasanya susah setengah mati karena jangankan untuk menjadi PNS untuk menjadi guru kontrak saja perjuangan seperti mungkin kalau zaman perang dulu seperti melawan penjajah. Sulit sekali rasanya.sehingga saya dan suami memutuskan untuk hijrah meninggalkan kampung halamanku yang unik dan banyak sekali meninggalkan catatan kenangan.(Kebetulan pada saat kami sedang merencanakan proses kepindahan suami saya di terima menjadi CPNS) menjadi tenaga pengajar di salah satu sekolah (SMP).

Diringi air mata saya di antar oleh kedua orang tua saya sampai Pelabuhan Bom Baru Palembang, saya berangkat dengan menggunakan Kapal Cepat Express Bahari (transit) Palembang-Mentok-Pangkal Balam-Tanjungpandan. Tanjungpandan waktu itu seperti kota yang baru mengalami krisis ekonomi berat, karena menurut cerita suami saya dulunya Belitung tidak seperti ini, karena PT Timah baru saja melakukan restrukturisasi sehingga kondisi Belitung seperti kota “bangkrut”.  PT Timah tidak lagi beroperasi di Belitung, memang terlihat dari bangunan-bangunan gedung megah dan kokoh, seperti gedung perkantoran,  rumah sakit, kompleks perumahan karyawan memperlihatkan bahwa sebelumnya pulau ini memang menjadi kota yang hebat dan luar biasa secara ekonomi dan produktivitas, dan masyarakatnya sejahtera.

Awalnya di Belitung saya tidak betah karena mungkin jauh dari keluarga terutama jauh dari orang tua, (karena waktu itu teknologi tidak seperti sekarang, di mana kita bisa berkomunikasi lewat YM, Skype atau sejenisnya) mungkin karena rindu keluarga saya sakit-sakitan, sehingga sempat di tahun  2002 bersamaan dengan terbentuknya propinsi Kep. Bangka Belitung suami saya mengusulkan  pindah ke SUMSEL, untuk kembali lagi ke daerah asal saya dan disetujui , di tahun 2003 SK mutasi sudah keluar dan ditempatkan salah satu SMP Negeri yang ada di  Kota Prabumulih. Anehnya  setelah SK mutasi suami saya keluar justru saya ragu mau pindah ke Prabumulih padahal sebelumnya saya  begitu semangat ingin pindah dan keluar Belitung. Entah mengapa? akhirnya saya yang minta suami saya supaya mutasinya dibatalkan.

Ada beberapa pertimbangan waktu itu mengapa saya ingin tetap di Belitung, pertama setelah lepas dari SumSel pembangunannya sudah mulai digalakan sehingga saya berpikir bahwa Belitung ini nantinya akan menjadi daerah yang maju, kedua lingkungannya aman karena tindak criminal di sini boleh dibilang tidak ada (aman), ketiga tinggal di pulau ini seperti tinggal di pulau dalam cerita dongeng karena sangat cantik, indah dikelilingi pantai yang masih alami dan gugusan terumbu karang yang sangat menakjubkan, serta barisan batu granit yang “SUBHANALLAH”, yang menurut cerita bebatuan itu termasuk dalam kelompok bebatuan granit terunik dan termegah ke 7 (tujuh) yang ada di seluruh dunia.

Seiring waktu berjalan sudah 13 tahun lebih saya tinggal di pulau ini, pulau ini sudah sangat banyak mengalami kemajuan, jalan-jalannya mulus dan tidak adalagi yang tidak beraspal walaupun jalan dipedesaan sementara dikampungku jalannya masih banyak yang berlubang dan tidak beraspal, setiap desa sudah dialiri listrik sementara di daerah lain masih banyak yang belum dialiri listrik, gedung sekolah tidak ada lagi yang tidak layak bahkan sekarang tidak ada lagi sekolah yang tidak memiliki fasilitas internet sementara di daerah lain jangankan internet bangunan sekolahnya saja masih banyak yang tidak layak, tidak memiliki meja kursi dan sarana pendukung lainnya sementara disini cukup lumayanlah dibandingkan daerah-daerah lain yang pernah saya jumpai dan pernah saya ketahui lewat televisi. Intinya disini (Belitung) walaupun pulau tapi menyenangkan ditambah lagi transportasi sangat mendukung. Kalau dulu pesawat susah mau keluar masuk Belitung bahkan seminggu 1 kali tapi sekarang Tanjungpandan-Jakarta bahkan sehari ada 6 kali penerbangan begitu juga Tanjungpandan –Palembang sehingga untuk pulang ke kampung untuk bertemu orang tua tidak jadi masalah.  Mungkin itu juga yang menyebabkan saya betah tinggal di pulau ini.

Saat ini saya tidak ada lagi keinginan untuk pindah dari pulau ini bersama suami saya bekerja sebagai PNS di bidang pendidikan baik formal maupun non formal. Sering teman-teman saya satu daerah bilang  dari pada hujan emas dinegeri orang, lebih baik hujan batu dinegeri sendiri”, tapi bagi saya ungkapan itu tidak berlaku. Itulah sedikit cerita alasan saya mengapa saya masih tetap tinggal dan menetap di Belitung.

Tanjungpandan, 31 Agustus 2012

 
 

3 komentar:


  1. Terharu, sedih, gembira, dan alhamdulillah!

    BalasHapus
  2. Sangat menginspirasi cerita Ibu Elmi, insya allah jannah bu 😥

    BalasHapus
  3. Sangat menginspirasi cerita Ibu Elmi, insya allah jannah bu 😥

    BalasHapus